game theory dan pola makan

strategi menghadapi godaan junk food

game theory dan pola makan
I

Pernahkah kita berjanji pada diri sendiri untuk makan sehat, tapi berakhir menyantap mi instan goreng pakai telur ganda di jam sebelas malam? Saya yakin, kita semua pernah berada di posisi itu. Rasanya seperti dikhianati oleh tubuh dan otak kita sendiri. Pagi harinya, kita merasa bersalah lalu bergumam lemas, "Oke, besok saya beneran mulai diet." Sayangnya, siklus itu terulang lagi keesokan harinya. Kenapa susah sekali mengalahkan godaan sepotong ayam goreng tepung atau segelas minuman boba? Jawabannya sebenarnya sangat melegakan: ini bukan karena kita lemah atau tidak punya motivasi. Ada mesin rumit di dalam kepala kita yang sedang bekerja, dan mari kita bedah mesin itu bersama-sama.

II

Untuk memahami kelemahan kita, kita harus mundur sebentar melihat sejarah nenek moyang kita. Selama ratusan ribu tahun, manusia hidup di lingkungan yang sangat keras. Makanan adalah sesuatu yang langka dan tidak pasti. Karena itu, otak kita berevolusi menjadi semacam radar pencari lemak dan gula berkalori tinggi. Begitu lidah kita menyentuh sesuatu yang manis atau gurih, otak akan menyemburkan dopamine dalam jumlah masif sebagai bentuk perayaan. Masalahnya, dunia kita berubah terlalu cepat, sedangkan otak kita masih beroperasi dengan sistem operasi zaman batu. Kita tidak lagi harus berburu hewan melintasi padang rumput berhari-hari; kita cuma butuh memencet layar ponsel sambil rebahan untuk mendatangkan sekotak martabak manis. Otak kita kebingungan menghadapi kelimpahan kalori ini. Di sinilah letak konflik utamanya. Kita sedang bermain dalam sebuah permainan yang peraturannya sudah sangat kadaluarsa.

III

Kalau kita sepakat melihat ini sebagai sebuah permainan, mungkin kita bisa meminjam ilmu dari para ahli matematika. Teman-teman pernah mendengar istilah game theory atau teori permainan? Ini adalah cabang ilmu matematika, psikologi, dan ekonomi yang mempelajari bagaimana strategi yang rasional digunakan untuk memenangkan situasi kompetitif. Ilmu ini biasanya dipakai untuk strategi perang militer, negosiasi bisnis, atau diplomasi antar negara. Lalu, apa urusannya ilmu seberat ini dengan godaan junk food di meja makan kita? Nah, di sinilah letak keseruannya. Dalam kasus pola makan, musuh yang kita hadapi dalam game theory bukanlah negara asing. Musuh kita adalah diri kita sendiri di dimensi waktu yang berbeda. Terjadi pertarungan sengit antara "Saya Hari Ini" melawan "Saya Besok Pagi". "Saya Hari Ini" menginginkan kenikmatan instan dan pelepasan stres. Sebaliknya, "Saya Besok Pagi" menginginkan badan yang sehat, perut yang rata, dan umur yang panjang. Siapa yang biasanya menang dalam duel ini? Dan bagaimana caranya agar "Saya Besok Pagi" tidak selalu babak belur di tangan godaan sesaat?

IV

Di sinilah rahasia terbesarnya terungkap. Dalam game theory, strategi terbaik untuk menang melawan diri sendiri bukanlah dengan mengandalkan tekad atau willpower. Otak rasional dan tekad kita itu mirip seperti baterai ponsel; daya tahan dan kapasitasnya akan habis di malam hari saat kita paling lelah atau stres. Strategi yang benar secara matematis adalah mengubah aturan mainnya sejak awal. Dalam psikologi dan teori permainan, strategi pamungkas ini disebut precommitment atau komitmen awal.

Mari kita pinjam kisah klasik dari mitologi Yunani tentang pelaut bernama Odysseus. Dia tahu bahwa di jalur pelayarannya ada makhluk bernama Siren yang nyanyiannya sangat menggoda, membuat pelaut manapun rela menghancurkan kapalnya ke tebing karang demi mendekati suara itu. Apa yang Odysseus lakukan? Dia tidak diam saja dan mengandalkan keteguhan hatinya saat mendengar nyanyian itu. Tidak. Jauh sebelum kapalnya mendekati zona bahaya, dia menyuruh awak kapalnya untuk mengikat tubuhnya di tiang layar utama, dan menyumbat telinga seluruh awaknya dengan lilin. Dia mengunci pilihannya sebelum godaan itu tiba.

Kita bisa melakukan hal persis yang sama pada pola makan kita. Jangan simpan camilan manis di laci meja kerja, karena kita pasti akan memakannya saat deadline menyerang. Hapus aplikasi pesan-antar makanan setiap weekend tiba. Siapkan buah potong segar di rak kulkas yang sejajar dengan mata. Melalui precommitment, kita membuat "Saya Hari Ini" kesulitan mengakses junk food, sehingga "Saya Besok Pagi" bisa bernapas lega. Kita mengubah matriks permainannya dengan membuat pilihan yang buruk menjadi sangat mahal harganya atau sangat repot untuk dieksekusi.

V

Teman-teman, menyalahkan dan merutuki diri sendiri karena tergoda makanan lezat adalah tindakan yang sungguh tidak adil. Kita sedang bertarung melawan jutaan tahun insting kelangsungan hidup manusia, ditambah gempuran industri junk food bernilai miliaran dolar yang memang menyewa ahli pangan untuk mendesain produk yang bikin kecanduan. Itu jelas bukan pertarungan yang seimbang jika kita cuma bermodalkan niat semata. Tapi hari ini, kita sudah tahu rahasianya. Kita tidak dituntut untuk menjadi sosok yang punya tekad baja untuk bisa sehat. Kita hanya perlu menjadi lebih cerdik dalam merancang papan permainan kita sendiri. Lain kali, sebelum godaan itu datang menyapa, jadilah seperti Odysseus. Ikat diri kita pada kebiasaan yang baik sedini mungkin, dan biarkan sistem pelindung itu bekerja untuk kita. Mari kita menangkan permainan ini, bukan dengan cara menyiksa diri, tapi lewat satu langkah cerdas yang dilakukan secara konsisten.